Hai, pemuda seberapa jauh kau ingin tahu tentang aku?
Aku yang hanya bunga biasa ini,
Apakah pantas bercerita panjang lebar bagaikan kau punya banyak waktu untuk mendengarkan omong kosong ku?
Tak berani aku mengawali cerita dengan kisah-kisah luar biasa,
Karena sejatinya tak ada yang bisa aku sombongkan,
Tak ada kisah-kisah heroik dalam kehidupanku.
Si Bunga Merah Jambu
Labels: MySelfPost 0 comments
Disela-sela
kesibukan ku menulis tesis, lama kutunggu kabar dari si bunga di tepi jalan
itu. Kunanti, namun tak sepenuhnya ia mau muncul untuk membagi kabarnya padaku.
Hingga tiba malam purnama kemarin (21 Mei 2016), dia menyapaku dengan lembut, “hai,
perempuan pembaca”. Lama kami merindukan sebuah momen seperti ini, cahaya
rembulan yang sedikit malu tertutup awan menemani kebersamaan kami untuk
membagi kisah kelanjutan si bunga di tepi jalan dan pemuda pekebun bunga. Tanpa
kutanya, rupanya si bunga paham betul bagaimana rasa penasaranku terhadap
kondisi dirinya, si pemuda, dan taman itu. Dengan senang hati si bunga mau
membagi ceritanya padaku, dan bulan pun tak ingin ketinggalan.. menyimak dari
balik awan.
Korespondensi 11 April 2016
Labels: MySelfPost 0 comments
Bunga di Tepi Jalan Gunung Vaderman
Hari ini tanggal 11, tepat 1 bulan dari
tanggal postingan pertama dari si pemuda pekebun bunga. Bagaimana aku tidak
ingat? Sebagai pembaca yang baik aku akan selalu menandai setiap moment dan
bacaan yang berkesan. Selain itu, angka 11 adalah sebuah bilangan prima yang
unik, hingga dapat menjadi penanda yang unik untuk si bunga di tepi jalan itu.
Hai bunga, apa kabar mu hari ini? aku telah menyampaikan kabar terakhir dari si
pemuda pekebun bunga kepada mu, dan sepertinya korespondensi mu masih ditunggu.
Mau kah kau berbagi sedikit balasan itu dengan ku? Mumpung ditemani hujan sore
ini, sambil menunggu pelangi, ijinkan aku mendengarkan ceritamu. Selanjutnya,
Aku (disini) adalah si bunga itu, dan aku (penulis) cukuplah hanya memberikan
sebuah prolog di awal paragraf ini.
Balasan untuk Pemuda Pekebun Bunga
Labels: MySelfPost 0 comments
Bagaikan pantun yang tidak sedap apabila tidak berbalas, hingga
kemudian kuputuskan untuk menuliskan beberapa hal yang perlu diceritakan dari
sepotong kisah bunga di tepi jalan itu. Cerita yang akan lebih banyak berisikan
alur mundur.. memutar kembali memori si bunga untuk menyadarkan dirinya.
Sepertinya, memang keduanya pernah bertemu, si pemuda pekebun bunga dan
setangkai bunga di tepi jalan. Ya, kuyakin mereka pernah bertemu pada beberapa
kali persimpangan dan dalam beberapa kali purnama. Mulai dari purnama pertama,
hingga kini purnama yang ke-18. Namun, sayangnya lebih dari 12 purnama yang
mereka habiskan sendiri, menikmatinya dalam diam sebelum akhirnya suatu jalan
pesimpangan mempertemukan mereka berdua untuk saling bertegur sapa.
Bunga di Tepi Jalan
Labels: MySelfPost 2 comments
Sumber: Dokumentasi Pribadi
Permainan analogi memang sesuatu yang paling aman untuk
menceritakan sebuah realita secara lebih sopan dan tersirat. Semua perumpamaan
itu bagaikan analogi yang aku kenal, secara tersirat tersampaikan pesannya. Aku
mungkin tahu, namun tetap saja maksud hati seseorang hanya orang yang
bersangkutan dan Allah yang tahu. Manusia lain hanya bisa tebak-menebak,
berasumsi, menganalisis dan menyimpulkan. Semua alur cerita beranalogi taman
bunga itu, sungguh indah kubayangkan sebagai sebuah taman yang sesungguhnya.
Kamu yakin mau menunggu?
Labels: MySelfPost 0 comments
Kamu yakin mau menunggu?
Banyak
orang-orang disekeliling ku berbicara tentang jodoh. Kesana kemari pun pokok
bahasannya masih sama, seputar menikah, jodoh, menataskan diri, pengharapan, ah
sudahlah begitu sudah mudah ditebak, berikut kroni-kroninya. Apakah kamu juga
begitu? Mau mengajak saya ngobrolin jodoh? Oh
so yesterday banget.. mending ngobrolin masa depan dan mimpi untuk S3 di
Autralia deh :-D
My First Book Review: The Alpha Girl’s Guide (Henry Manampiring)
Labels: Book Review, MyPortfolio, MySelfPost 0 comments
Berada di Toko Buku Gramedia Mall Ambarukmo, first seeing this book!
Hai kamu, iya kamu.. apakah kamu seorang
wanita yang masih menjalani masa studi atau sudah berkarier? Bagaimana kesibukanmu
saat ini para wanita modern? Kali ini saya akan mencoba meringkas sekaligus
sedikit memaknai (dengan bahasa yang berbeda) sebuah buku inspiratif tentang
tugas seorang wanita modern. Mengapa saya sebut wanita modern? Ya, karena
perkembangan teknologi dan ilmu pengetahuan membuat para wanita di jaman ini
lebih maju (dari aspek pola pemikiran, kesibukan, dan tanggungjawab)
dibandingkan dengan kondisi wanita di jaman dahulu (pada masa penjajahan
Belanda misalnya). Baiklah apa yang bisa diceritakan tentang buku ini?
Subscribe to:
Posts (Atom)





