Definisi Teknologi Pendidikan/Pembelajaran (1963-2004)



Hakekat definisi menurut Israel Scheffler (Barbara B. Seels & Rita C. Richey, 1994) membedakan definisi umum dengan definisi ilmiah. Menurut pendapatnya, definisi ilmiah mempunyai landasan teknis dan teoritis serta memerlukan pengetahuan khusus untuk memahaminya. Definisi ini merupakan hasil penelitian. Sedangkan definisi umum dapat dimengerti baik oleh umum maupun kaum profesi. Definisi umum menjelaskan bagaimana sutau istilah dimengerti dalam penggunaannya.

Sebelum suatu definisi dikembangkan harus sudah ada kejelasan tentang parameter definisi tersebut. Parameter ini adalah anggapan (asumsi) yang melandasi pengambilan keputusan. Agar definisi dapat dirumuskan, terlebih dahulu harus ada ketentuan tentang lingkup, tujuan, pandangan, sasaran, serta karakteristik utama yang harus dijadikan pertimbangan.  Suatu definisi yang mewakili berbagai kepentingan dalam bidang akan mengidentifikasi permasalahan serta kesempatan yang dapat memacu kreativitas dan penemuan. Pertanyaan yang kini timbul adalah: “Apakah teknologi itu? Dan bagaimana kaitannya dengan pendidikan?”
Teknologi modern digambarkan sebagai sistematisasi pengetahuan praktis dalam meningkatka produktivitas. Menurut Braudel (Barbara B. Seels & Rita C. Richey, 1994), teknologi bukan hanya sekedar aplikasi ilmu pengetahuan, melainkan juga perbaikan proses serta sarana yang memungkinkan suatu generasi menggunakan pengetahuan generasi sebelumnya sebagai dasar bertindak. Teknologi pendidikan seringkali diartikan sebagai penerapan prinsip-prinsip ilmu pengetahuan dalam menyelesaikan permasalahan  belajar, ini yang mengasumsikan bahwa keberadaan ilmu dan teknologi tidak terpisahkan.
Konsepsi dari teknologi pendidikan telah dan sedang berkembang begitu juga dengan kawasan teknologi pendidikan. Definisi AECT tentang teknologi pendidikan sekarang, dapat saja berubah di waktu mendatang. Hal ini telah terbukti pada definisi-definisi TP pada tahun 1963, 1970, 1971, 1972, 1977, hingga 1994 yang sudah tidak dipakai dan digantikan dengan keberadaan deinisi yang lebih ‘matang’ dan kontekstual. Berbagai konsep muncul dalam definisi-definisi tersebut, meskipun konteks dan makna konsep tersebut dapat bervariasi. Pada tahun 1973 Ely mengemukakan bahwa definisi-definisi Teknologi Pendidikan mengandung tiga tema utama, dengan mengetengahkan bahwa teknologi pendidikan, merupakan:
1.    Pendekatan sistematik
2.    Pengkajian sarana atau cara
3.    Suatu bidang yang diarahkan untuk tujuan tertentu
  Teknologi pendidikan semula dilihat sebagai teknologi peralatan, yaitu penggunaan peralatan, media, dan sarana untuk tujuan pendidikan. Bidang teknologi pendidikan merupakan gabungan dari tiga aliran yang saling berkepentingan, yaitu media dalam pendidikan, psikologi dan pembelajaran, dan pendekatan sistem untuk pendidikan (Seels, 1994). Dua orang tokoh Edgar Dale dan James Finn pantas mendapat penghargaan karena sumbangan mereka yang besar dalam pengembangan teknologi pendidikan modern dan perumusan awal dari definisnya. Dale mengembangkan Kerucut Pengalaman (Cone of Experience) sebagai berikut:

Gambar Kerucut Pengalaman Dale (Cone of Experience)


Kerucut Edgar Dale ini menyatukan teori pendidikan John Dewey dengan gagasan-gagasan dalam bidang psikologi yang tengah populer dimasa itu. Kerucut pengalaman merupakan upaya awal untuk memberikan alasan tentang kaitan teori belajar dengan lomunikasi audio-visual. Kemudian oleh Jim Finn bidang komunikasi audio-visual ini diusulkan menjadi Teknologi Pendidikan. Finn mengemukakan bahwa Teknologi Pendidikan merupakan proses intelektual yang harus bertumpu pada penelitian. Dua kontribusi lain dari Finn adalah dukungan atas penamaan bidang Teknologi Pendidikan serta diangkatnya penerapan teori sistem sebagai landasan bidang. Gagasan Finn mengenai terintegrasinya sistem dan proses, mampu mencakup dan memperluas gagasan Dale tentang keterkaitannya dengan bahan dan proses. Sehingga definisi Teknologi Pendidikan yang pertama berkaitan dengan komunikasi audio-visual dan memicu perubahan nama Department of Audiovisual Instruction (Departemen Pembelajaran Audiovisual) menjadi Association for Educational Communication and Technology (Asosiasi Komunikasi dan Teknologi Pendidikan) pada tahun 1963. 

Pada pembahasan definisi Teknologi Pendidikan yang akan dipaparkan dalam paper ini adalah definisi Educational Technology dari tahun 1963-1977 (Yusufhadi Miarso, 2004), 1994 (Barbara B. Seels & Rita C. Richey, 1994) dan definisi tahun 2008 (Alan Januszewski & Michael Molenda, 2008).
1.      Educational Technology 1963
Usaha untuk merumuskan definisi teknologi pendidikan secara terorganisasikan dimulai pada tahun 1960. Pengembangan definisi pertama dilakukan oleh the Technological Development Project dari The National Education Association dengan ketua tim Prof. Dr. Donald P. Ely. Pada tahun 1963 disahkan definisi yang pertama sebagai berikut:
“Komunikasi audiovisual ialah cabang teori dan praktik pendidikan, khususnya yang berkepentingan dengan rancangan dan pemanfaatan pesan yang mengendalikan proses belajar. Kegiatan ini meliputi perencanaan, produks, seleksi, pengelolaan, dan pemanfaatan komponen-komponen sistem dan seluruh sitem instruksional. Tujuan praktisnya, yaitu efisiensi pemanfaatan setiap metode dan media komunikasi yang dapat menyumbang pengembangan potensi si-belajar secara penuh.”

2.      Educational Technology 1970
Usaha kedua untuk mendefiniskan teknologi pendidikan dilakukan oleh the Commission on Instructional Technology yang dipimpin oleh Sidney Tickton pada tahun 1970. Definisi teknologi instruksional yang dirumuskan adalah:
“Teknologi instruksional adalah suatu cara yang sistematik untuk merancang, melaksanakan, dan mengevaluasi keseluruhan proses belajar mengajar dalam rangka mencapai tujuan khusus komunikasi dan belajar pada manusia, serta dengan mempergunakan kombinasi sumber belajar insani dan non-insani, agar terjadi pembelajaran yang lebih efektif.”

Pada definisi ini ditekankan bahwa teknologi pendidikan sebagai proses, bukan hanya  sebagai media atau peralatan. Ditegaskan juga, bahwa teknologi pendidikan merupakan konsep dan pendekatan sistem, dan berlandaskan pada teori belajar dan komunikasi. Selain itu, pada definisi ini mulai diperkenalkan istilah “sumber belajar.”

3.      Educational Technology 1972
Kedua definisi di atas belum dianggap lengkap, sehingga pada tahun 1972 Komisi Definisi dan Terminologi AECT mengeluarkan definisi baru yang ketiga, yaitu:
“Teknologi pendidikan adalah suatu bidang yang berkepentingan dengan memfasilitasi belajar pada manusia, melalui usaha sistematik dalam identifikasi, pengembangan, pengorganisasian, dan pemanfaatan berbagai macam sumber belajar serta dengan pengelolaan atas keseluruhan proses tersebut.”
           
Definisi ketiga ini menunjukkan hal-hal baru/berbeda, seperti: teknologi pendidikan sebagai suatu bidang; proses memfasilitasi belajar dan bukan kendali belajar; dan penggunaan nama/istilah teknologi pendidikan.

4.      Educational Technology 1977
Definisi tahun 1977 yang merupakan definisi keempat, meliputi 16 bagian yang diharapkan dipahami sebagai suatu keseluruhan yang saling berkaitan. Definisi tersebut sebagai berikut:
“Teknologi pendidikan adalah proses yang kompleks dan terpadu yang melibatkan orang, prosedur, ide, peralatan, dan organisasi untuk menganalisis masalah, mencari jalan pemecahan, melaksanakan, mengevaluasi, dan mengelola pemecahan masalah yang menyangkut semua aspek belajar manusia. Pemecahan masalah terjelma dalam bentuk sumber belajar yang dirancang, dipilih dan/atau digunakan untuk keperluan belajar, dan yang terdiri dari pesan, orang, bahan, peralatan, teknik, dan latar (lingkungan). Proses analisis masalah merupakan fungsi pengembangan pendidikan dalam bentuk riset/teori, desain, produksi, evaluasi-seleksi, logistik, pemanfaatan, dan peyebarluasan. Proses pengarahan dan koordinasi merupakan fungsi pengelolaan pendidikan yang meliputi pengelolaan organisasi dan personil.”


5.      Educational Technology in AECT 1994 (Instructional Technology: The Definition and Domainds of The Field)
“Teknologi Pendidikan adalah teori dan praktek dalam desain, pengembangan, pemanfaatan, pengelolaan dan penilaian proses dan sumber untuk belajar (AECT, 1994)”

 Menurut definisi 1994 Teknologi Pendidikan adalah:

a.       Teori dan praktek
Teori terdiri dari konsep, bangunan (konstruk), prinsip dan proporsi yang member sumbangan terhadap khasanah pengetahuan. Sedangkan praktek merupakan penerapan pengetahuan tersebut dalam memecahkan permasalahan.
b.      Desain, pengembangan, pemanfaatan, pengelolaan dan penilaian
Peristilahan tersebut berhubungan dengan daerah basis pengetahuan maupun tugas yang dilakukan para insan profesi dalam bidang. Kesemuanya merupakan lima kawasan dasar Teknologi Pendidikan.
c.       Proses dan sumber
Proses adalah serangkaian operasi atau kegiatan yang diarahkan pada suatu hasil tertentu. Pengertian proses mencakup tata urutan yang terdiri dari masukan (input), kegiatan (process), dan keluaran (output). Sedangkan yang dimaksud dengan sumber adalah asal yang mendukung terjadinya belajar, termasuk sistem pelayanan, bahan pembelajaran dan lingkungan.
d.      Untuk keperluan belajar
Dalam definisi disebutkan bahwa belajar adalah mengenai adanya perubahan yang relatif permanen pada pengetahuan atau perilaku seseorang karena pengalaman. Tujuan teknologi pendidikan adalah untuk memacu (merangsang) dan memicu (menumbuhkan) belajar.belajar, yang dapat terlihat dengan adanya perubahan pada pengetahuan, keterampilan ataupun sikap, merupakan kriteria atau ukuran pembelajaran. 

6.      Educational Technology in AECT 2004 (Educational Technology: A Definition with Commentary)
“Educational technology is the study and ethical practice of facilitating learning and improving performance by creating, using, and managing appropriate technological processes and resources (AECT, 2008)

Konsepsi dari Teknologi Pendidikan telah dan sedang berkembang begitu juga dengan kawasan bidang garapannya. Definisi yang ada saat ini, bisa saja kemudian berubah namun tetap memiliki esensi yang sama atau bahkan lebih jelas. Berikut ini dijelaskan konsep istilah yang dipakai dalam definisi TP AECT 2008, yaitu:
a.       Study
Studi diartikan sebagai kumpulan informasi dan analisis melalui traditional conceptions of research. Penelitian merupakan ujung tombak atau generator dari lahirnya ide-ide baru dan proses evaluatif untuk meningkatkan praktek. Studi juga dimaknai sebagai pemahaman teoritis dari praktek teknologi pendidikan yang diperlukan untuk perkembangan dan perbaikan ilmu pengetahuan melalui penelitian dan refleksi.
b.      Ethical Practice
Etika praktek mengacu pada standar etika praktis sebagaimana yang didefinisikan oleh Komite Etika AECT tentang apa saja yang harus dilakukan oleh praktisi Teknologi Pendidikan. Definisi teknologi pendidikan saat ini mulai mepertimbangkan etika praktek sebagai sesuatu yang penting  untuk mencapai kesuksesan, karena tanpa hal tersebut sukses adalah hal yang mustahil dicapai.  
c.       Facilitating
Hadir sebagai akibat adanya pergeseran paradigma pembelajaran yang memberikan peran dan tanggung jawab lebih besar kepada peserta didik sehingga peran teknologi pendidikan berubah menjadi pemfasilitasi. Memfasilitasi meliputi mendesain lingkungan belajar, pengorganisasian sumber belajar, dan menyediakan alat media untuk belajar. Kegiatan belajar dapat berlangsung melalui tatap muka (face to face) atau berlangsung di lingkungan virtual atau yang disebut sebagai distance learning.
d.      Learning
Learning (pembelajaran) selain berkenaan dengan ingatan juga berkenaan dengan pemahaman. Tugas pembelajaran dapat dikategorikan berdasarkan pada berbagai taksonomi, dimana tujuan dari pembelajaran/pendidikan adalah adanya pemahaman sebagai retensi pengetahuan.
e.        Improving
Berkaitan dengan peningkatan kualitas produk yang menyebabkan pembelajaran lebih efektif, perubahan dalam kapabilitas yang membawa dampak pada aplikasi dunia nyata. Pada lingkup teknologi pendidikan, untuk meningkatkan (improve) kemampuan mengharuskan untuk memenuhi tuntutan keefektivan seperti: kualitas produk sebagai hasil proses pembelajaran, produk pembelajaran yang efektif, dan kemampuan pebelajar yang dapat diaplikasikan di dunia nyata. 
f.       Performance
Berkaitan dengan kesanggupan peserta didik untuk menggunakan dan mengaplikasikan kemampuan yang baru didapatkannya. Selanjutnya, ide dan media (tools) dari teknologi pendidikan dapat membantu pendidik (guru) dan desainer pembelajaran untuk meningkatkan performance  agar dapat mengorganisasikan dan mencapai tujuan pembelajaran secara efektif.
g.      Creating, Using, Managing
Creating (penciptaan) mengacu pada penelitian, teori dan praktek dalam pembuatan materi pembelajaran, lingkungan pembelajaran dan sistem pembelajaran dalam beberapa setting yang berbeda, formal dan nonformal. Using (pemanfaatan) mengacu pada teori dan praktek yang terkait dengan membawa peserta didik berhubungan dengan kondisi dan sumber belajar. Managing (pengelolaan) berkaitan dengan manajemen perorangan dan manajemen informasi yang mengacu pada masalah pengorganisasian orang-orang dan perencanaan, pengendalian, penyimpanan dan pengolahan informasi.
h.      Appropriate
Appropriate (tepat) digunakan untuk menjelaskan kata teknologi yang tepat pada proses dan sumber daya, yang menandakan kecocokan dan kesesuaian dengan tujuan pendidikan yang ingin dicapai.
i.        Technological
Teknologi mengandung arti aplikasi sistematis atau ilmu atau pengetahuan yang terorganisir untuk tugas-tugas praktis. Teknologi yang dimaksud dapat berupa software maupun hardware yang diperlukan dalam proses pembelajaran.
j.        Processes
Dapat didefinisikan sebagai serangkaian kegiatan yang diarahkan pada hasil yang spesifik. Teknologi pendidikan seringkali mngidentifikasikan proses sebagai aktivitas desain, pengembangan, dan menghasilkan sumber belajar, yang tergolong sebagai proses dalam arti luas dari teknologi pendidikan.
k.      Resources
Sumber daya telah diperluas dengan inovasi teknologi dan dengan pengembangan pemahaman baru mengenai bagaimana alat-alat teknologi dapat membantu peserta didik belajar. Sumber belajar dapat berupa orang, media/alat, teknologi, dan materi yang didesain untuk membantu pebelajar.
 Definisi konsep teknologi pendidikan senantiasa berubah dan mengalami revisi, hingga pada definisi AECT 2008 sebagai pedoman definisi terbaru. Teknologi pendidikan dimaknai sebagai konsepsi yang lebih luas dibadingkan dengan teknologi pembelajaran, seperti makna pendidikan yang lebih luas dibandingkan dengan , pembelajaran. Namun hal tersebut dapat pula berbeda apabila dinilai dari kriteria yang berbeda. Pada dasarnya keduanya merupakan pendekatan menyeluruh untuk meningkatkan kemampuan (performance) dalam bidang pembelajaran maupun pelatihan (training). 

0 comments:

Post a Comment